TKA Bahasa Indonesia (SMA) Antara Gotong Royong dan "Utang Piutang": Dilema Tradisi Buwuhan di Perkotaan

icon

17 September 2026

Dilema Tradisi Buwuhan di Perkotaan

Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya, tradisi buwuhan sudah mendarah daging sebagai bagian dari identitas sosial. Tradisi ini dilakukan ketika ada acara penting seperti pernikahan atau khitanan, di mana kerabat dan tetangga datang untuk memberi bantuan—baik berupa barang, uang, maupun tenaga—kepada tuan rumah yang sedang mengadakan hajatan.

Secara filosofis, buwuhan mencerminkan nilai luhur gotong royong dan solidaritas sosial yang kuat. Namun, dalam praktiknya kini, buwuhan sering kali bergeser makna. Sebagian masyarakat memandangnya bukan lagi sebagai hibah atau sedekah yang ikhlas, melainkan sebagai bentuk "utang tidak tertulis" yang menimbulkan kewajiban moral untuk membalas secara setara saat si pemberi mengadakan hajatan serupa di kemudian hari.

Pergeseran pandangan ini menimbulkan dua sisi mata uang. Di satu sisi, buwuhan meringankan beban finansial tuan rumah penyelenggara acara. Di sisi lain, hal ini dapat menciptakan tekanan psikologis bagi penerima yang merasa terbebani secara ekonomi, bahkan terdorong untuk berutang demi menjaga harga diri dan membalas buwuhan. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat terhadap tradisi buwuhan perlu diluruskan agar semangat tolong-menolong tetap terjaga tanpa menimbulkan beban finansial yang tidak perlu.

Contoh Soal (Topik: Tradisi Buwuhan)

  1. Apa makna kata hajatan berdasarkan konteks bacaan di atas? A. Kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar. B. Pertemuan rutin warga untuk membahas masalah lingkungan. C. Acara atau pesta yang diadakan untuk memperingati hal penting. D. Permohonan bantuan yang dilakukan tuan rumah kepada tetangga. Kunci Jawaban: C
  2. Manakah gagasan yang mendukung ide pokok bahwa buwuhan kini telah bergeser menjadi bentuk utang? A. Praktik buwuhan disertai dengan perjanjian tertulis di atas meterai. B. Penerima buwuhan merasa wajib mengembalikan bantuan tersebut di kemudian hari. C. Buwuhan sepenuhnya dianggap sebagai sedekah murni tanpa pamrih. D. Pemberi buwuhan selalu memberikan jumlah yang lebih sedikit dari yang diterima. Kunci Jawaban: B
  3. Hubungan makna antara paragraf kedua dan ketiga dalam teks tersebut adalah ... A. Perbedaan jenis buwuhan berdasarkan kategori acara yang diselenggarakan. B. Penjelasan sebab dan akibat dari perbedaan pandangan masyarakat mengenai buwuhan. C. Penjelasan dampak buruk dari pandangan buwuhan murni sebagai sedekah. D. Perbedaan tata cara pelaksanaan buwuhan di beberapa kelurahan di Surabaya. Kunci Jawaban: B
  4. Kalimat "Oleh karena itu, pemahaman masyarakat terhadap tradisi buwuhan perlu diluruskan agar nilai luhur tolong-menolong tetap terjaga tanpa menimbulkan beban yang tidak perlu" sangat tepat dijadikan kesimpulan karena ... A. Merangkum sebab-akibat serta memberikan solusi atas dilema tradisi buwuhan. B. Menyimpulkan penolakan masyarakat terhadap penghapusan tradisi buwuhan. C. Menyangkal seluruh pandangan negatif demi pelestarian tradisi buwuhan semata. D. Menggarisbawahi instruksi penghapusan tradisi buwuhan di seluruh Jawa. Kunci Jawaban: A
  5. Mengapa sebagian masyarakat merasa tertekan secara psikologis akibat tradisi buwuhan? A. Karena jumlah tamu undangan yang hadir terlalu sedikit. B. Karena adanya kewajiban moral dan rasa malu untuk membalas setara hingga memicu utang. C. Karena tradisi ini wajib dilakukan oleh seluruh warga negara tanpa terkecuali. D. Karena tuan rumah mematok tarif masuk bagi setiap tamu yang hadir. Kunci Jawaban: B

 

Stoodee hadir sebagai mitra belajar terbaik untuk membantu siswa/i meraih sekolah impian, kampus favorit hingga karir.

Program Unggulan:

 

1️⃣ Seleksi AKPOL

2️⃣ Seleksi TNI/UNHAN (AKMIL/AAL/AAU)

3️⃣ Seleksi Bintara Polri

4️⃣ Sekolah Kedinasan (IPDN, STIS, Kemenhub, dll)

5️⃣ PTN Jalur UTBK - SNBT

6️⃣ Paket Kombo: Kedinasan + UTBK

7️⃣ Khusus PKN STAN

8️⃣ Seleksi CPNS

9️⃣ Persiapan SMA Unggulan

🔟 Pendampingan Materi  (SMP & SMA)